Brosur Gizi Balita
Balita, yang didefinisikan sebagai anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan, memiliki kesehatan yang sangat bergantung pada kecukupan asupan nutrisi dan perawatan yang baik. Orang tua memegang peranan penting dalam menyediakan makanan bergizi seimbang, menciptakan lingkungan makan yang positif, dan memberikan respons yang tepat terhadap anak. Informasi penting yang perlu diperhatikan adalah mengenai Air Susu Ibu (ASI), yang merupakan satu-satunya sumber makanan dengan kandungan semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Oleh karena itu, ASI eksklusif sangat dianjurkan untuk bayi berusia 0-6 bulan. Setelah melewati usia 6 bulan, anak memerlukan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi. Semakin beragam jenis makanan yang dikonsumsi, semakin mudah pula kebutuhan gizi anak terpenuhi. Penting untuk diketahui bahwa anak di bawah usia 2 tahun memiliki kecenderungan untuk kekurangan zat besi, seng, kalsium, asam folat, serta vitamin B1, B3, dan B6, sehingga pemenuhan gizinya melalui porsi yang tepat menjadi sangat krusial.
Dalam menghadapi tantangan pemberian makan, orang tua diimbau untuk tidak panik jika anak menolak makan. Jika anak marah dan menolak makan hingga 15 menit, hentikan pemberian makan dan tawarkan kembali 2-3 jam kemudian, serta hindari memberikan jajanan. Apabila anak hanya ingin makan jajanan, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa anak lapar. Orang tua perlu mengajarkan anak untuk makan sesuai jadwal dan tidak menjadikan jajanan sebagai hadiah.
Setiap zat gizi memiliki fungsi spesifik dan sumbernya masing-masing. Karbohidrat, yang bersumber dari beras, jagung, dan umbi-umbian, berfungsi menghasilkan tenaga dan memberi rasa kenyang. Protein, yang penting untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangan, dapat diperoleh dari sumber hewani seperti ayam, ikan, dan telur, serta sumber nabati seperti tahu dan tempe. Lemak dari minyak atau mentega berguna untuk meningkatkan asupan energi dan penyerapan vitamin. Vitamin dan mineral juga memegang peranan vital. Vitamin A baik untuk kesehatan mata; Vitamin B Kompleks untuk metabolisme; Vitamin C untuk kekebalan tubuh dan penyerapan zat besi; Vitamin D dan Kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi; Vitamin K untuk penyembuhan luka; Zat Besi untuk mencegah anemia; Zat Seng untuk kekebalan tubuh dan penyembuhan diare; serta Asam Folat untuk perkembangan sel.
Tahapan pemberian makan pada balita disesuaikan dengan usianya. Pada usia 6-8 bulan, anak diberikan ASI sesuai kemauannya, 2 kali makanan utama, dan 1 kali cemilan. Porsi makanan pokok yang dikenalkan adalah setengah piring kecil (50 gram). Memasuki usia 9-11 bulan, porsi makanan pokok ditingkatkan menjadi setengah hingga tiga perempat piring kecil (50-75 gram), dengan tetap melanjutkan pemberian ASI dan makanan lainnya. Pada rentang usia 12-23 bulan, frekuensi makan utama menjadi 3 kali sehari dengan 2 kali cemilan, dan porsi makanan pokok menjadi tiga perempat piring kecil (75-100 gram). Untuk anak usia 2-6 tahun, dianjurkan pemberian 3 kali makanan utama dan 2 kali cemilan, dengan lauk pauk sumber protein hewani dan nabati diberikan setiap kali makan. Selain asupan nutrisi, penting juga untuk menstimulasi aktivitas fisik anak sesuai tahap perkembangannya.